Berita Terbaru

Diberdayakan oleh Blogger.
Marak Penjual Obat Keras Daftar G, Warga Tarogong Kidul Minta Polisi Tindak Tegas

By On Minggu, April 12, 2026

GARUT, DudukPerkara.News - Maraknya dugaan peredaran obat keras daftar G jenis Tramadol di Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat (Jabar), memicu keresahan warga. 

Aktivitas tersebut terpantau berlangsung terang-terangan di sebuah kios, tepatnya di Jl. Cimanuk No.43, Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, diduga telah beroperasi cukup lama dengan perputaran uang mencapai jutaan rupiah setiap harinya. 

Saat hendak melakukan peliputan, awak media sempat mendapat penolakan dari seorang pria yang mengaku bernama Riki. Pria tersebut yang bertugas sebagai penjaga toko. 

Roki menyebut, usaha itu milik bosnya berinisial B dan mengakui dirinya bertugas sebagai penjaga sekaligus pengawas keamanan di bagian depan. 

“Pemiliknya orang Aceh bang, tapi kalau ada media langsung aja ke Pak H Basirun. Obat yang dijual Tramadol, harganya Rp 5 ribu per butir,” ujarnya kepada awak media saat ditemui di lokasi, Sabtu, 11 April 2026. 

Dari pengakuannya, omzet penjualan disebut mencapai sekitar Rp 5 juta per hari. 

Jika angka tersebut benar, dalam satu bulan peredaran obat keras itu berpotensi menghasilkan ratusan juta rupiah. 

Nilai tersebut memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat terkait efektivitas pengawasan serta langkah penindakan aparat berwenang. 

Sebagaimana diketahui, Tramadol merupakan obat keras yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter dan penggunaannya wajib berada di bawah pengawasan tenaga medis. 

Penyalahgunaan obat ini berisiko menimbulkan ketergantungan, gangguan kesehatan serius, bahkan kematian apabila dikonsumsi tidak sesuai aturan. 

Secara hukum, peredaran obat keras tanpa izin dapat dijerat ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. 

Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar atau tidak memenuhi standar dapat terancam pidana penjara hingga 10 tahun dan denda miliaran rupiah. 

Masyarakat berharap aparat penegak hukum, khususnya Polsek Tarogong kidul, segera melakukan penyelidikan menyeluruh dan mengambil langkah tegas apabila ditemukan unsur tindak pidana. 

Jangan sampai wilayah Tarogong kidul dicap sebagai zona aman peredaran obat keras ilegal yang berpotensi merusak generasi muda. 

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun instansi terkait mengenai dugaan aktivitas tersebut. (*/red)

Polisi Selidiki Hilangnya Dua Remaja di Cikande

By On Sabtu, April 11, 2026

SERANG, DudukPerkara.News - Jajaran Polsek Cikande tengah melakukan penyelidikan intensif terkait laporan hilangnya dua orang remaja yang diduga pergi bersama-sama sejak Jumat, 03 April 2026. 

Laporan resmi diterima pihak kepolisian pada Minggu, 05 April 2026, dari masing-masing keluarga korban. 

Adapun identitas kedua remaja yang dilaporkan hilang itu, yaitu Indriyani (17), warga Desa Nambo Udik, Kecamatan Cikande, dan Helvan Permana (17), warga Desa Nambo Ilir, Kecamatan Kibin. 

Kapolsek Cikande, AKP Tatang, membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan bahwa personel unit Reskrim serta Bhabinkamtibmas sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan keduanya. 

"Benar, kami menerima dua laporan kehilangan di hari yang sama. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, kedua remaja ini diketahui pergi bersama-sama pada tanggal 3 April kemarin. Saat ini, tim kami masih terus melakukan penyelidikan di lapangan dan melacak jejak keberadaan mereka," ujar AKP Tatang dalam keterangannya, Sabtu, 11 April 2026. 

Hingga kini, pihak Kepolisian telah menggali keterangan dari pihak keluarga maupun kerabat dekat untuk mengetahui motif serta tujuan kedua remaja tersebut meninggalkan rumah. 

Kapolsek Cikande mengimbau kepada masyarakat yang melihat atau mengetahui keberadaan Indriyani dan Helvan Permana untuk segera melapor. 

"Kami memohon bantuan masyarakat. Jika ada yang melihat atau memiliki informasi sekecil apa pun terkait keberadaan mereka, mohon segera hubungi Polsek Cikande atau melalui layanan Call Center 110. Kami berharap keduanya dapat segera ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat," tutup AKP Tatang. (*/red)

Sejumlah THM di Surabaya Dirazia, Polisi Lakukan Tes Urine

By On Sabtu, April 11, 2026

Razia Gabungan di THM Surabaya. 

SURABAYA, DudukPerkara.News - Polda Jawa Timur (Jatim) menggelar razia dan tes urine di tiga lokasi Tempat Hiburan Malam (THM) di Surabaya. 

Dirresnarkoba Polda Jatim, Kombes Muhammad Kurniawan memastikan kondisi THM di Surabaya masih aman dari peredaran narkoba. 

Hal itu disampaikan usai razia yang digelar pada Jumat malam, 10 April 2026, dengan melibatkan tiga tim gabungan. 

"Sebanyak 106 pengunjung menjalani pemeriksaan urine dan seluruhnya dinyatakan negatif narkoba," ujar Kurniawan dalam keterangannya, Sabtu, 11 April 2026. 

"Hal itu menunjukkan tempat hiburan malam di Surabaya dalam kondisi relatif aman dan terkendali," ujarnya menambahkan. 

Kurniawan mengatakan, razia dilakukan secara humanis dan persuasif tanpa mengganggu aktivitas masyarakat, namun tetap tegas terhadap potensi pelanggaran hukum. 

"Kegiatan ini merupakan langkah preventif untuk memastikan tidak ada ruang bagi peredaran narkoba, khususnya di lokasi yang berpotensi menjadi titik rawan," ujarnya. 

Ia memastikan razia serupa akan terus dilakukan secara berkala. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sekaligus memberikan rasa aman bagi pengunjung tempat hiburan di Surabaya. (*/red)

Bupati Nonaktif Ponorogo Didakwa Terima Suap dan Gratifikasi, Total Rp 7,4 Miliar

By On Sabtu, April 11, 2026

SURABAYA, DudukPerkara.News - Bupati nonaktif Ponorogo, Sugiri Sancoko menjalani sidang perdana perkara atas dugaan suap dan gratifikasi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Jumat, 10 April 2026. 

Dia tidak sendirian, dua mantan pejabat lain turut diadili, yaitu Sekretaris Daerah Agus Pramono dan mantan Direktur RSUD dr. Harjono, dr. Yunus Mahatma. 

Ketiganya tiba di Pengadilan Tipikor Surabaya, mengenakan rompi oranye, diantarkan kendaraan Brimob Polda Jatim, dan didampingi anggota keluarga. 

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terdiri dari Greafik Loserte, Martopo Budi Santoso, dan Arjuna membacakan surat dakwaan di hadapan majelis hakim yang diketuai I Made Yuliada. 

Dalam dakwaan tersebut, ketiga terdakwa disebut terlibat dalam dua skema penyuapan, yaitu praktik jual beli jabatan Direktur RSUD dan suap terkait proyek pembangunan paviliun rumah sakit daerah. 

Selain itu, Jaksa menyebut, juga ada upaya gratifikasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. 

Dalam dakwaan pertama, Sugiri Sancoko dan Agus Pramono diduga menerima uang suap senilai Rp 900 juta, terhitung sejak bulan Februari 2021 hingga 7 November 2025. 

"Terdakwa Sugiri Sancoko bersama Agus Pramono disebut sebagai penentu dalam pengurusan jabatan untuk mempertahankan dan memperpanjang masa jabatan Yunus Mahatma sebagai Direktur RSUD dr. Harjono S. Kabupaten Ponorogo,” ujar Jaksa Greafik Loserte. 

Lokasi penyerahan uang diduga dilakukan di beberapa titik, di antaranya di RSUD dr. Harjono S., Kantor Bupati Ponorogo, Rumah Dinas Bupati, serta rumah milik Ninik Setyowati di Desa Bajang, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. 

Perbuatan terdakwa disebut bertentangan dengan Pasal 5 angka 4 dan angka 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. 

“Serta Pasal 67 huruf e dan Pasal 76 ayat (1) huruf a dan e UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Juncto UU RI Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,” ujar Jaksa. 

Selain itu, dakwaan dalam berkas terpisah, Sugiri Sancoko dengan Yunus Mahatma diduga menerima suap senilai Rp 950 juta dari Direktur CV Cipto Makmur Jaya, Sucipto. 

Penerimaan diduga dilakukan secara berlanjut sejak 29 Juli 2022 hingga 31 Desember 2024, bertempat di lingkungan RSUD dr. Harjono S. Ponorogo serta di sebuah joglo di Desa Sawoo, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. 

Uang tersebut diduga merupakan hadiah yang diberikan kepada Sugiri, yang telah berperan dalam menetapkan dan mengendalikan proses pengadaan di RSUD dr Harjono S Kabupaten Ponorogo. 

Proses pengadaan tersebut dijalankan melalui mekanisme e-katalog oleh PPKOM (Pejabat Pembuat Komitmen). Tujuan pemberian dana itu agar perusahaan milik Sucipto keluar sebagai pemenang proyek. 

Proyek yang dimaksud adalah Pembangunan Gedung Instalasi Rawat Inap Paviliun di RSUD dr Harjono S Kabupaten Ponorogo Tahun 2024. 

Atas perbuatan tersebut, Sugiri didakwa melanggar Pasal 12 huruf b juncto Pasal 18 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) atau Pasal 606 ayat 2 jo Pasal 20 huruf c jo Pasal 126 ayat 1 KUHP. 

Selain suap, Sugiri juga didakwa menerima gratifikasi senilai Rp 5.572.000.000. 

Uang itu diterima Sugiri dari berbagai pihak, termasuk Yunus Mahatma dan Sucipto. 

Jaksa KPK menyebut, terdapat 28 transaksi atau daftar nama pemberi uang yang berkaitan dengan gratifikasi tersebut. 

"Terdakwa Sugiri Sancoko menerima gratifikasi berupa uang sejumlah Rp 5.572.000.000 atau sekitar itu haruslah dianggap suap karena berhubungan dengan jabatan terdakwa selaku Bupati Ponorogo,” ujar Jaksa. 

Perbuatan terdakwa tersebut bertentangan dengan Pasal 12 huruf B Juncto Pasal 18 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 terkait Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). 

"Sugiri didakwa tiga peristiwa, yang pertama karena mempertahankan jabatan Direktur RSUD Ponorogo, kedua penerimaan suap atas pekerjaan fisik RSUD, dan ketiga penerimaan gratifikasi sekitar Rp 5,5 miliar,” pungkas Jaksa. (*/red)

Terjaring OTT KPK, Gerindra Sebut Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Baru Mendaftar Jadi Kader

By On Sabtu, April 11, 2026

JAKARTA, DudukPerkara.News - Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan klarifikasi soal status kader Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Dasco mengatakan, Gatut Sunu diusung banyak partai saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 dan statusnya saat itu belum merupakan kader Gerindra. 

Gatut baru mendaftar untuk bergabung dengan Gerindra setelah dia terpilih menjadi Bupati Tulungagung. 

“Baru setelah jadi Bupati, belum lama, dia mendaftar menjadi kader Gerindra,” kata Dasco kepada wartawan, Sabtu, 11 April 2026. 

Adapun kader asli Gerindra di Tulungagung, kata Dasco, adalah Ahmad Baharudin yang menjabat Wakil Bupati Tulungagung. 

“Yang kader Gerindra asli adalah wakil bupatinya,” ucap Dasco. 

Meski sudah mendaftar jadi kader Gerindra, Gatut Sunu belum resmi menjadi kader partai berlambang kepala garuda tersebut. 

Hal ini ditegaskan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra, Jawa Timur (Jatim) yang menyebut Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo belum resmi menjadi kader partai. 

Ketua Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPD Gerindra Jatim, Hidayat mengatakan, Gatut Sunu belum resmi tergabung sebagai kader. 

"Masih belum,” ujar Hidayat dalam keterangannya, Sabtu, 11 April 2026. 

Namun, Hidayat tak menampik bila sebelumnya Gatut akan bergabung dengan Gerindra dalam waktu dekat. 

Tetapi, belum mendapat lampu hijau dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra. 

Diketahui sebelumnya, Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo terjaring OTT KPK pada Jumat, 10 April 2026. 

Gatut diboyong ke Jakarta pada Sabtu pagi untuk diperiksa intensif di Gedung Merah Putih KPK. 

"Bupati tiba di gedung KPK Merah Putih sekitar pukul 06.50 WIB, dan langsung dilakukan pemeriksaan intensif,” kata Juru Bicara (Jubir) KPK, Budi Prasetyo dalam keterangannya, Sabtu, 11 April 2026. 

Sementara, 15 orang lain yang terjaring OTT KPK masih diperiksa di Mapolresta Tulungagung. 

Hingga saat ini, KPK belum membeberkan identitas 15 orang yang ditangkap bersama-sama dengan Gatut. (*/red)

Adik Bupati Tulungagung Ikut Diamankan dalam OTT KPK

By On Sabtu, April 11, 2026

Jubir KPK, Budi Prasetyo. 

JAKARTA, DudukPerkara.News - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membawa 13 orang ke Jakarta hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim). 

Selain Bupati Tulungagung Gatut Sunu, adiknya juga turut dibawa. 

"Benar (satu pihak lainnya yang ikut dibawa ke Jakarta adalah adik Bupati Gatut)," ujar Juru Bicara (Jubir) KPK, Budi Prasetyo kepada wartawan, Sabtu, 11 April 2026. 

Budi mengatakan, adik Bupati Gatut Sunu berada di lokasi yang sama saat KPK melakukan OTT, sehingga ia juga turut dibawa ke Jakarta oleh penyidik. 

Budi juga mengatakan, penyidik menyita sejumlah uang tunai dari OTT tersebut. 

Namun, KPK belum merinci jumlah total uang yang diamankan. 

"Dalam kegiatan ini tim juga mengamankan barang bukti diantaranya dalam bentuk uang tunai," ujar Budi. 

Seluruh pihak yang diamankan tengah diperiksa oleh penyidik. KPK memiliki waktu 1x24 jam untuk menentukan status hukum mereka. 

Diketahui, OTT tersebut dilakukan pada Jumat malam, 10 April 2026. Dalam OTT tersebut, KPK menjaring Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo. 

"Benar, malam ini KPK melakukan kegiatan penyelidikan tertutup di wilayah Jatim. Di mana tim mengamankan sejumlah 16 orang, salah satunya Bupati Tulungagung," kata Jubir KPK, Budi Prasetyo kepada wartawan, Jumat, 10 April 2026. (*/red)

KPK Sita Uang Ratusan Juta saat OTT Bupati Tulungagung

By On Sabtu, April 11, 2026

Gedung Merah Putih KPK. 

JAKARTA, DudukPerkara.News - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo bersama 15 orang lainnya. Selain itu, KPK juga turut membawa barang bukti. 

Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto mengatakan, barang bukti yang dibawa yaitu uang tunai senilai ratusan juta. Namun, ia tidak merinci jumlah pasti uang yang dibawa. 

"Ada (barang yang dibawa), uang ratusan juta," ujar Fitroh kepada wartawan, Sabtu, 11 April 2026. 

Hingga saat ini, KPK belum bisa menjelaskan lebih jauh terkait konstruksi perkara. Hanya Gatut yang saat ini baru tiba di Gedung Merah Putih KPK. 

Sementara 15 orang pihak yang sempat terjaring operasi senyap itu masih dilakukan pemeriksaan di Polresta Tulungagung. (*/red)

Kapolsek Cimahi Selatan Jangan Tutup Mata, Warung Penjual Obat Daftar G Kembali Jadi Sorotan Aktivis

By On Sabtu, April 11, 2026


BANDUNG BARAT, DudukPerkara.Com - Meskipun ancaman hukuman pidananya cukup tinggi bagi para penjual Obat daftar G jenis Tramadol dan Hexymer, namun  hal itu tidak membuat jera dan takut bagi mafia obat keras golongan G tersebut untuk melancarkan aksi ilegalnya. 

Pantauan awak media pada Sabtu, 11 Maret 2026, terlihat jelas seorang laki di depan warung, tepatnya berada di Jl. Perumnas Cijerah II No.15, Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, sedang menyambut datangnya para pelanggan. 

Keberadaan penjual obat daftar G tersebut diduga dapat menjadi ancaman serius yang berdampak meresahkan bagi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang sangat rentan terhadap penyalahgunaan obat-obatan terlarang. 

Hal ini dibenarkan salah satu narasumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya. 

Ia mengatakan bahwa tempat tersebut menjual obat terlarang Golongan (G) jenis Hexymer dan Tramadol yang diduga tanpa resep dokter. 

Menurutnya, dengan adanya tempat eksekusi, peredaran obat-obatan terlarang yang setiap harinya terlihat jelas banyak anak-anak dan para remaja usia di bawah umur, dikhawatirkan obat yang telah dikonsumsi akan berdampak buruk bagi kesehatan. 

Saat salah seorang pembeli saat dikonfirmasi awak media mengatakan bahwa dirinya membeli Tramadol di toko tersebut. 

"Saya beli satu lempeng isi 10 butir obat Tramadol seharga Rp 50 ribu," ucap pembeli berinisial R, Sabtu, 11 April 2026. 

Berdasarkan Pasal 196 Undang- Undang Kesehatan No.36 Tahun 2008 disebutkan bahwa: setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat atau mutu sebagaimana di maksud dalam pasal 98 ayat (2) dan (3), di pidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. 

Selain itu, pelaku juga dapat dijerat dengan Pasal 197 Jo pasal 106 ayat (1) Undang-Undang No 36 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. 

Dan ada juga pasal 62 ayat (1) Jo pasal 8 ayat (1) Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman lima tahun penjara dan denda hingga Rp 2 miliar. (*/red

Penjual Obat-obatan Daftar G Kembali Marak, Polsek Cililin Diduga Langgar Prosedur

By On Sabtu, April 11, 2026

BANDUNG BARAT, DudukPerkara.News - Dugaan pelanggaran prosedur penanganan laporan informasi peredaran obat terlarang terjadi di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di wilayah hukum (Wilkum) Polsek Cililin, Polres Cimahi, terkait adanya beberapa lokasi yang diduga menjual obat-obatan daftar G, jenis Tramadol dan Hexymer tanpa resep dokter. 

Kapsek Cililin, AKP Dwi Meirani Sri Andriani Sapin, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsAppnya membenarkan adanya beberapa lokasi yang menjual obat daftar G tepatnya : 

-- Di Jalan Raya Pembangunan, Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat; 

-- Di Jl. Sasak Bubur, Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat;  

-- Di Jl. Raya Cililin No.62, Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. 

"Terima kasih atas informasinya. Ketiga lokasi tersebut sudah ditindak lanjuti oleh angota kami. Semuanya dalam keadaan tutup, jika ingin lebih jelas datang kekantor," kata AKP Dwi Meirani Sri Andriani Sapin, Jumat (3/4/2026). 

Pada Kamis, 9 April 2026, penjual obat daftar G yang berlokasi di Jl. Raya Cililin No.62, Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, kembali buka bahkan ramai pembelinya. 

Penjaga toko kembali diminta keterangan oleh awak media terkait omset penjualanya per harinya. 

Ia mengatakan bahwa pendapatan per harinya kurang lebih sekitar Rp 5 juta.  

"Kalau tidak ada uang koordinasi kepada Aparat Penegak Hukum saya juga tidak berani berjalan sebebas ini," ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa semua lokasi yang jualan obat daftar G di wilayah Cililin semuanya sudah Kordinasi kepada APH atau di bawah kendali oknum Kanitreskrim Polsek Cililin. 

"Percuma abang beritakan, karena setiap kali ada penindakan Pak Kanit Reskrim pasti telpon agar toko ditutup sebentar," ucapnya. 

Berdasarkan dokumentasi lokasi beberapa gambar serta rekaman suara para penjaga tim media mendatangi Mapolsek Cililin untuk Laporan informasi serta konfirmasi kembali. 

Namun setibanya di Mapolsek Cililin salah satu angota piket (SPKT) yang mengaku bernama Dadang mengarahkan awak media ke Kantor Desa. 

"Kalau Kanit Reskrim (Ipda Prio) beliau di luar, kalau angotanya ada, tapi tidak bisa menindak harus nunggu perintah pimpinan dulu. Coba ke Kantor Desa, minta bantu Babinsa aja," kata Angota Piket yang mengaku bernama Dadang saat di konfirmasi oleh wartawan, Kamis (9/4/26). 

Sikap Angota Piket dan Kanit Reskrim tersebut, melanggar Peraturan Kapolri Nomor 7 tentang Kode Etik Polri dan Peraturan Kapolri (Perkap) No. 2 Tahun 2022 tentang Pengawasan Melekat (Waskat) di lingkungan Polri serta Pasal 108 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP) yang mengatur hak masyarakat untuk melaporkan tindak pidana. (*/red)

Kasus Penipuan PNS Gresik Diduga Diotaki ASN

By On Jumat, April 10, 2026

Salah satu korban penipuan PNS saat berada di salah satu ruang Kantor Pemkab Gresik. 

GRESIK, DudukPerkara.News - Kasus penipuan Surat Keputusan (SK) PNS di Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), mulai terkuak. 

Otak penipuan itu mengarah pada dugaan keterlibatan dua oknum Aparatur Sipil Negara (ASN). Satu di antaranya masih berstatus aktif, sementara satu lainnya merupakan ASN nonaktif. 

Kasus yang mencatut nama Pemkab Gresik ini terus memakan korban. 

Hingga saat ini, tercatat 14 orang telah melapor sebagai korban dugaan penipuan tersebut. 

Sekda Gresik, Achmad Washil mengaku telah menerima informasi terkait dugaan keterlibatan dua oknum ASN tersebut. 

Ia menyebut, satu di antaranya masih berstatus aktif, sementara satu lainnya sudah tidak lagi menjabat sebagai ASN. 

"Informasinya ada satu ASN aktif yang terlibat dan juga ASN yang nonaktif," ujarnya kepada wartawan, Jumat, 10 April 2026. 

Dia menjelaskan, oknum ASN nonaktif tersebut sebelumnya juga pernah terlibat kasus serupa. Bahkan, kata dia  yang bersangkutan sudah mendapatkan sanksi berat. 

"Dulu juga pernah memasukkan THL non prosedural dan terkena teguran sampai dipecat," ujarnya. 

Modus yang digunakan pelaku yakni memanfaatkan celah formasi PPPK yang tidak terisi. 

Pelaku kemudian menawarkan kepada korban untuk bisa lolos tanpa melalui tes, dengan imbalan sejumlah uang. 

"Info dari BKPSDM untuk nominal sekitar Rp 50 juta sampai ratusan juta," ujarnya. 

Saat ini kasus tersebut masih dalam pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak terkait, termasuk Direktorat dan BKPSDM. 

Dugaan pemalsuan tanda tangan Kepala BKPSDM juga menjadi bagian dari penyelidikan.

"Termasuk pelanggaran berat. Kemungkinan besar dipecat (ASN yang terlibat)," pungkasnya. (*/red)

Polresta Malang Kota Selidiki Kasus Pernikahan Siri Sesama Jenis

By On Jumat, April 10, 2026

Erfastino Reynaldi (36) alias Rey Malawat alias Yupi Rere saat memberikan klarifikasi atas tuduhan penipuan yang dari istrinya, Intan Anggraeni.  

MALANG, DudukPerkara.News - Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang Kota terus mendalami kasus dugaan penipuan berkedok pernikahan siri sesama jenis yang terjadi di wilayahnya. 

Pihak Kepolisian pun telah resmi menerima laporan terkait dugaan pemalsuan identitas dan dokumen kependudukan yang dilakukan oleh terlapor. 

Kasi Humas Polresta Malang Kota, Ipda Lukman Sobhikin mengatakan, laporan tersebut telah terdaftar dengan nomor pengaduan PM/611/IV/Reskrim/2026/SPKT Polresta. 

"Benar, kami telah menerima pengaduan terkait dugaan pemalsuan surat data kependudukan atas nama pelapor berinisial IA (Intan Anggraeni), warga Kecamatan Blimbing, Kota Malang," kata Lukman kepada wartawan, Jumat, 10 April 2026. 

Berdasarkan keterangan awal, dugaan penipuan ini bermula saat korban, Intan Anggraeni (IA), berkenalan dengan terlapor berinisial R atau yang akrab disapa Rey. 

Keduanya bertemu pertama kali pada Februari 2026 di sebuah kafe di wilayah Kota Batu. 

Setelah menjalin hubungan asmara selama kurang lebih dua bulan, keduanya memutuskan untuk melangsungkan pernikahan secara siri. 

Namun, setelah resmi menikah, Intan menemukan fakta bahwa Rey yang selama ini mengaku sebagai laki-laki ternyata adalah seorang perempuan. 

"Dari hasil keterangan awal, memang ada temuan bahwa terlapor inisial R ini seorang wanita. Namun, semua masih kami dalami dalam proses penyelidikan," ujar Lukman. 

Selain melaporkan penipuan identitas gender, korban juga menyerahkan sejumlah barang bukti yang memperkuat adanya indikasi tindak pidana pemalsuan dokumen. 

Dokumen tersebut digunakan terlapor untuk meyakinkan korban selama masa perkenalan hingga pernikahan. 

Barang bukti yang diserahkan kepada penyidik Satreskrim Polresta Malang Kota, di antaranya fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) atas nama Rey. 

"Barang bukti yang diserahkan berupa fotokopi KTP dan Kartu Keluarga. Dugaan sementara memang terjadi pemalsuan data kependudukan," tuturnya. 

Hingga saat ini, pihak Kepolisian masih fokus melakukan penyelidikan awal dan belum melakukan pemanggilan terhadap terlapor Rey. 

Polisi juga masih mendalami apakah ada keterlibatan pihak lain dalam pembuatan dokumen kependudukan yang diduga palsu tersebut. 

"Untuk saat ini, kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut guna menindaklanjuti laporan tersebut," pungkasnya. (*/red)

Prabowo Perintahkan Panglima TNI, Kapolri, Menkeu Hentikan Penyelundupan

By On Jumat, April 10, 2026

Presiden Prabowo Subianto. 

JAKARTA, DudukPerkara.News - Presiden Prabowo Subianto menyoroti penyelundupan yang masih terjadi di Indonesia. 

Ia meminta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk bertindak. 

"Pekerjaan kita masih berat, perjalanan masih panjang, kebocoran masih terjadi, penyelundupan masih terjadi, Panglima TNI-Kapolri-Menteri Keuangan, anda punya lembaga-lembaga yang tugasnya untuk menghentikan penyelundupan, gunakan segala wewenang yang ada pada anda untuk menegakkan itu," kaya Prabowo dalam pidatonya di Kejagung, Jumat, 10 April 2026. 

Ia juga lembaga-lembaga lain di semua tingkatan untuk bekerja sama. Terutama dalam menegakkan hukum. 

"Saya sangat setuju hukum adalah instrumen untuk menjaga kekayaan bangsa dan negara, tanpa kekayaan bangsa dan negara tidak mungkin rakyat kita hidup sejahtera. Tak ada pilihan bagi kita," ujarnya. 

Prabowo juga mengaku bahagia karena pemerintahannya berhasil menyelamatkan uang negara dengan total Rp 31,3 triliun. 

Prabowo mengatakan, uang ini berhasil diselamatkan di kepemimpinannya yang baru 1,5 tahun ini. 

"Kita hari ini hadir dalam acara penyerahan hasil penyelamatan keuangan, dan aset negara serta penagihan denda administratif tahun 2026 sebesar Rp 11.420.104.815.858, saudara-saudara sekalian, ini adalah sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi saya, bahwa hal ini terjadi berkali-kali di dalam pemerintahan yang saya pimpin baru 1,5 tahun ini," kata Prabowo. 

Selama Oktober 2025 ini, kata Prabowo, pemerintahannya sudah menyelamatkan uang negara total Rp 31,3 triliun. 

Salah satunya, uang yang diselamatkan ini berasal dari kasus tindak pidana korupsi. 

"Pada Oktober 2025, kita berhasil menyelamatkan uang negara sebesar Rp 13,255 triliun dalam perkara tindak pidana korupsi pemberian fasilitas eksport crude palm oil dan turunannya, selang dua bulan kemudian pada Desember 2025 kita kembali berhasil selamatkan uang Rp 6,625 triliun, dan hari ini 10 April kita berhasil menyelamatkan Rp 11,420 triliun," tuturnya. 

"Dengan demikian total uang tunai yang berhasil kita selamatkan sampai hari ini adalah Rp 31,3 triliun," sambungnya. 

Seperti diketahui, pada Oktober 2025, Kejagung telah menyita uang senilai Rp 13.255.244.538.149 terkait kasus korupsi persetujuan ekspor Crude Palm Oil (CPO) minyak kelapa sawit periode 2021-2022. Kemudian pada Desember 2025, Kejagung juga menyerahkan uang Rp 6.625.294.190.469.74 kepada negara melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (*/red

Disaksikan Presiden Prabowo, Kejagung Serahkan Uang Rp 11,4 Triliun ke Kas Negara

By On Jumat, April 10, 2026

Jaksa Agung, ST Burhanuddin memberikan keterangan dalam agenda penyerahan uang sebesar Rp 11,42 triliun hasil denda administratif dan penyelamatan keuangan negara oleh Satgas PKH ke kas negara di Gedung Kejagung, Jumat, 10 April 2026. 

JAKARTA, DudukPerkara.News - Presiden RI, Prabowo Subianto menyaksikan langsung proses penyerahan uang Rp 11,4 triliun hasil denda administratif di bidang kehutanan dan lingkungan, hasil tindak korupsi, hingga penerimaan pajak.

Bahkan, ada pula penyerahan kawasan hutan hasil penguasaan kembali di sektor perkebunan sawit dan pertambangan.

"Penegakan hukum yang kuat, cerdas, dan terarah akan memperbaiki tata kelola, memulihkan kerugian negara, menyehatkan iklim usaha, dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi nasional," kata Jaksa Agung ST Burhanuddin, Jumat, 10 April 2026.

Menurut Jaksa Agung, penegakan hukum yang lemah akan membuat negara kehilangan uang, kehilangan aset, kehilangan wibawa, dan kehilangan kemampuan untuk menyejahterakan rakyat. Untuk itu, penegakan hukum harus tegas dalam rangka menjaga stabilitas nasional.

"Negara tidak boleh kalah dari para mafia yang terus menghisap kekayaan hutan Indonesia. Kita pastikan hutan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa merupakan anugerah yang dimiliki bangsa Indonesia harus dikelola dan dilestarikan untuk kepentingan rakyat, bukan hanya untuk kepentingan segelintir kelompok tertentu," ujarnya.

Adapun penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara serta penguasaan kembali kawasan hutan tahap VI oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

Kegiatan ini disaksikan langsung oleh Presiden RI, Prabowo Subianto dan jajaran menteri Kabinet Merah Putih.

Tampak tumpukan uang tersebut berupa pecahan Rp 100 ribuan yang terlihat bak gunung dengan perkiraan tinggi melebihi orang dewasa atau kurang lebih tiga meter.

Dari tumpukan uang yang tersusun rapi meninggi ke atas, terlihat nominal jumlah mencapai Rp 11.420.104.815.858.

Seluruh uang tersebut hasil denda administratif, penyelamatan keuangan negara, serta penguasaan kembali kawasan hutan tahap VI.

Seluruh uang itu diserahkan masuk ke kas negara yang terinci sebagai berikut:

1. Penagihan denda administratif di bidang kehutanan senilai Rp7.230.036.440.742;

2. Hasil Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari penanganan tindak pidana korupsi Kejaksaan RI senilai Rp1.967.867.845.912;

3. Penerimaan setoran pajak (Januari s.d. April 2026) senilai Rp967.779.018.290;

4. Pendapatan negara melalui penyetoran pajak periode 28 Februari 2026 PT Agrinas Palma Nusantara sebesar Rp108.574.203.443;

5. Hasil PNBP dari denda lingkungan hidup senilai Rp1.145.847.307.471;

Selain itu, Satgas PKH juga berhasil melakukan penguasaan kembali kawasan hutan, baik sektor perkebunan (sawit) maupun sektor pertambangan, dengan rincian:

1. Pada sektor perkebunan sawit, Satgas PKH sejak terbentuk pada Februari 2025 hingga hari ini berhasil melakukan penguasaan kembali kawasan hutan seluas 5.888.260,07 ha.

2. Pada sektor pertambangan, Satgas PKH berhasil melakukan penguasaan kembali kawasan hutan seluas 10.257,22 ha.

Seremonial penyerahan uang hasil penyelamatan atas kerugian negara sebelumnya telah dua kali dilakukan, yang keseluruhannya disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Momen pertama, Presiden Prabowo Subianto menyaksikan penyerahan uang senilai Rp 13,25 triliun hasil sitaan perkara korupsi pemberian fasilitas ekspor CPO dari Kejaksaan Agung kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Senin 20 Oktober 2025.

Dilanjutkan dengan penyerahan kedua dengan total uang Rp6,625 triliun yang tersusun hampir setinggi 1,5 meter, kembali disaksikan Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 24 Desember 2025. (*/red)

BPK dan Pertaruhan Pemberantasan Korupsi Pasca-Putusan MK

By On Jumat, April 10, 2026

Oleh: Antoni Putra

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 28/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan bahwa hanya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai lembaga yang berwenang menghitung dan menetapkan kerugian negara menandai perubahan mendasar dalam lanskap pemberantasan korupsi di Indonesia. 

Putusan ini tidak hanya menyentuh aspek normatif dalam Pasal 603 dan 604 KUHP Nasional, tetapi juga berpotensi mengubah ritme dan arah penegakan hukum korupsi secara signifikan. 

Di tengah tuntutan pemberantasan korupsi yang cepat dan efektif, sentralisasi kewenangan ini menghadirkan konsekuensi yang tidak sederhana. 

Dalam praktik hukum pidana korupsi, unsur “merugikan keuangan negara” bukan sekadar elemen tambahan, melainkan inti dari konstruksi delik. 

Tanpa adanya kerugian negara yang nyata dan terukur, suatu perbuatan tidak dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana korupsi. 

Dengan demikian, pembuktian mengenai kerugian negara menjadi titik krusial yang menentukan apakah suatu perkara dapat dilanjutkan ke tahap penuntutan dan pembuktian di pengadilan. 

Karena posisinya yang demikian menentukan, perdebatan mengenai siapa yang berwenang menghitung kerugian negara menjadi tidak terelakkan. 

Putusan MK hadir dengan tujuan memberikan kepastian hukum di tengah praktik yang selama ini membuka ruang bagi berbagai lembaga untuk melakukan perhitungan. 

Namun, dalam upaya menyederhanakan kewenangan tersebut, putusan ini sekaligus memusatkan otoritas pada satu institusi. 

Di sinilah letak persoalan mendasarnya: penyederhanaan tidak selalu identik dengan penguatan. 

Dari Fleksibilitas Menuju Sentralisasi

Sebelum putusan MK, praktik penegakan hukum korupsi di Indonesia menunjukkan karakter yang relatif fleksibel. 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), hingga unit akuntansi forensik internal aparat penegak hukum memiliki ruang untuk menghitung kerugian negara. 

Dalam banyak perkara, hakim menerima hasil perhitungan tersebut sebagai alat bukti yang sah, sepanjang memenuhi standar profesionalitas dan dapat diuji secara terbuka di persidangan. 

Fleksibilitas ini memberikan keuntungan praktis yang tidak kecil. Aparat penegak hukum tidak harus menunggu satu lembaga tertentu untuk memulai atau melanjutkan proses penyidikan. 

Dalam situasi di mana kecepatan menjadi faktor penting dalam mengungkap jaringan korupsi, kondisi ini memberikan ruang gerak yang lebih adaptif. 

Banyak perkara dapat ditangani secara lebih responsif, terutama ketika terdapat kebutuhan untuk segera menetapkan status hukum pihak-pihak yang terlibat. 

Namun, fleksibilitas tersebut juga membawa konsekuensi berupa fragmentasi standar. Perbedaan metodologi audit, pendekatan perhitungan, hingga basis data yang digunakan sering kali menghasilkan angka kerugian negara yang tidak seragam. 

Dalam situasi tertentu, hal ini membuka ruang perdebatan yang panjang di pengadilan dan berpotensi melemahkan konstruksi pembuktian. 

Putusan MK kemudian mengakhiri pluralitas tersebut dengan menegaskan BPK sebagai satu-satunya otoritas yang berwenang. 

Secara normatif, langkah ini sejalan dengan Pasal 23E UUD 1945 yang memberikan mandat kepada BPK untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. 

Dalam perspektif teori hukum, langkah ini dapat dipahami sebagai upaya memperkuat kepastian hukum. 

M. Yahya Harahap dalam Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP (2006) menegaskan bahwa kepastian hukum merupakan pondasi utama dalam proses peradilan yang adil, terutama dalam hal pembuktian. 

Meski demikian, sentralisasi kewenangan tidak serta-merta bebas dari risiko. 

Ketika seluruh proses pembuktian kerugian negara bergantung pada satu institusi, sistem hukum menjadi sangat ditentukan oleh kapasitas, integritas, dan kecepatan lembaga tersebut. 

Dengan demikian, sentralisasi tidak hanya menyederhanakan kewenangan, tetapi juga memindahkan risiko dari perbedaan standar menuju ketergantungan sistemik. 

Implikasi terhadap Efektivitas Pemberantasan Korupsi

Perubahan paradigma tersebut tidak berhenti pada tataran normatif, tetapi segera menimbulkan implikasi praktis dalam penegakan hukum. 

Dalam kondisi sebelumnya, aparat penegak hukum memiliki alternatif dalam memperoleh perhitungan kerugian negara. Kini, alternatif tersebut secara normatif tertutup, sehingga seluruh proses harus bertumpu pada BPK. 

Salah satu dampak yang paling nyata adalah potensi perlambatan dalam penanganan perkara. 

Dengan meningkatnya jumlah perkara korupsi, BPK akan menghadapi beban kerja yang semakin besar. 

Dalam situasi tertentu, proses audit yang membutuhkan waktu tidak singkat dapat menghambat kelanjutan penyidikan. 

Misalnya, dalam perkara yang melibatkan proyek pengadaan dengan nilai besar dan kompleksitas tinggi, keterlambatan audit dapat berimplikasi langsung pada tertundanya penetapan tersangka atau pelimpahan perkara ke pengadilan. 

Ketergantungan pada satu pintu juga berpotensi menciptakan hambatan struktural dalam sistem penegakan hukum. 

Ketika proses audit menjadi titik tunggu utama, ritme penyidikan tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali aparat penegak hukum. 

Dalam praktik, kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperlambat proses hukum atau mengaburkan alur pembuktian. 

Di sisi lain, putusan ini turut memengaruhi peran KPK yang selama ini dikenal memiliki kemampuan teknis melalui unit akuntansi forensik. 

Kemampuan tersebut menjadi salah satu keunggulan dalam menangani perkara secara cepat dan presisi. 

Dengan adanya pembatasan kewenangan ini, KPK harus bergantung pada hasil audit BPK, yang pada gilirannya mengubah karakter penegakan hukum dari model yang adaptif menjadi lebih prosedural. 

Dalam kerangka utilitarianisme, Jeremy Bentham dalam An Introduction to the Principles of Morals and Legislation (1789) menegaskan bahwa hukum harus dinilai dari manfaatnya bagi masyarakat. 

Dalam konteks pemberantasan korupsi, manfaat tersebut tercermin pada kemampuan hukum untuk menindak pelaku secara cepat, tepat, dan adil. 

Ketika suatu aturan berpotensi memperlambat proses penegakan hukum, maka nilai kemanfaatannya perlu dievaluasi secara kritis. 

Namun demikian, tidak semua implikasi bersifat negatif. Penegasan kewenangan BPK juga berpotensi meningkatkan kualitas pembuktian di pengadilan. 

Dengan standar lebih seragam dan legitimasi konstitusional yang kuat, hasil audit BPK memiliki daya pembuktian yang lebih kokoh. 

Hal ini dapat memperkecil ruang bagi terdakwa untuk mempersoalkan validitas perhitungan kerugian negara, sekaligus memperkuat posisi jaksa dalam membangun konstruksi perkara. 

Menjaga Keseimbangan antara Kepastian dan Efektivitas

Putusan MK ini pada dasarnya mencerminkan pilihan kebijakan hukum antara dua nilai yang seringkali berhadapan: kepastian dan efektivitas. 

Sebelum putusan, sistem cenderung fleksibel dengan berbagai sumber perhitungan kerugian negara, memungkinkan proses berjalan lebih cepat meskipun dengan risiko perbedaan standar. 

Setelah putusan, sistem menjadi lebih terpusat dengan standar tunggal, tetapi menghadapi tantangan dalam hal kecepatan dan kapasitas. 

Dalam konteks ini, persoalan utama tidak terletak pada norma putusan itu sendiri, melainkan pada bagaimana putusan tersebut diimplementasikan. 

BPK dituntut untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan, baik dari sisi sumber daya manusia, infrastruktur audit, maupun mekanisme kerja, agar mampu menjawab kebutuhan penegakan hukum yang semakin kompleks. 

Tanpa penguatan kapasitas tersebut, sentralisasi kewenangan justru berpotensi menjadi hambatan dalam pemberantasan korupsi. 

Di sisi lain, diperlukan mekanisme koordinasi yang lebih terintegrasi antara BPK dan aparat penegak hukum. 

Proses audit dan penyidikan harus berjalan dalam ritme yang selaras agar tidak saling menghambat. 

Tanpa koordinasi yang efektif, sistem yang diharapkan memberikan kepastian justru dapat melahirkan ketidakefisienan. 

Lebih jauh, putusan ini juga dapat dibaca sebagai cerminan kecenderungan politik hukum yang menekankan formalisasi dan penyeragaman dalam sistem pembuktian. 

Pilihan ini memiliki nilai positif dalam menjaga konsistensi, tetapi sekaligus mengurangi ruang fleksibilitas yang selama ini menjadi kekuatan dalam menghadapi kejahatan korupsi yang terus berkembang. 

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang.

Sumber: kompas.com

Oknum Anggota Polsek Cililin Diduga Tabrak Pasal 108 KUHP Perkap No.2 Tentang Waskat

By On Minggu, April 05, 2026

CIMAHI, DudukPerkara.News - Dugaan pelanggaran prosedur penanganan laporan informasi peredaran obat terlarang terjadi di Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di wilayah hukum (Wilkum) Polsek Cililin, Polres Cimahi, terkait adanya beberapa lokasi yang diduga menjual obat-obatan daftar G jenis Tramadol dan Hexymer tanpa resep dokter. 

AKP Dwi Meirani Sri Andriani Sapin, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsAppnya membenarkan adanya beberapa lokasi yang menjual obat daftar G.tepatnya di Jalan Raya Pembangunan, Cipatik, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat serta berada di Jl. Sasak Bubur, Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. 

"Trima kasih atas Informasinya ya bu, Ketiga lokasi tersebut sudah ditindak lanjuti oleh angota kami, semuanya dalam keadaan tertutup, jika ingin lebih jelas datang kekantor," kata AKP Dwi Meirani Sri Andriani Sapin selaku Kapolsek Cililin, Jumat, 03 April 2026. 

Namun pada Sabtu, 04 April 2026,para penjual obat daftar G Kembali berjualan bebas. Penjaga toko saat diminta keterangannya mengatakan dirinya sudah bayar uang koordinasi kepada salah satu oknum angota Polsek Cililin. 

"Kalau saya tidak kordinasi kepada aparat Kepolisian mungkin sudah ditindak pak," kata penjual obat daftar G di Jl. Sasak Bubur, Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat. 

Berdasarkan dokumentasi lokasi beberapa gambar serta rekaman suara para penjaga toko, tim media mendatangi Mapolsek Cililin untuk membuat Laporan Informasi serta konfirmasi kembali. Namun angota piket tidak merespon malah saling lempar. 

Sikap oknum Kanit Reskrim ini diduga melanggar Peraturan Kapolri (Perkap) No. 2 Tahun 2022 tentang Pengawasan Melekat (Waskat) di lingkungan Polri dan Pasal 108 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP) yang mengatur hak masyarakat untuk melaporkan tindak pidana. (*/red)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *